Bosan mencintai kamu
Kamu yang sangat mencintai senja
Maka dari itu kusebut Lelaki Senja
Karena kamu berasal dari sana
Kamu yang setia berdiri dekat jendela
Mereguk manisnya jingga
Seperti sirup dengan gula asli yang tidak akan membuat batuk
Karena itu tidak perlu takut
Karena itu kamu suka banyak-banyak mereguk senja
Seolah dahaga itu tak pernah terpuaskan, tak pernah kembung
Yang setelah itu akan kamu abadikan melalui goresan
Tinta hitam, warna favoritmu, di atas selembar kertas putih
Selembar untuk satu senja
Satu senja untuk satu sajak
Berlembar-lembar, untuk kau berikan pada siapa?
Mata bulatmu
Hidung mancungmu
Pipi chubbymu
Bahu kokohmu
Punggung yang sering ku sandari
Caramu berjalan
Caramu menyeduh kopi,
termasuk dengan racikan kesukaanmu
Caramu membalik setiap lebar halaman buku yang kau baca
Dan menandari halaman yang kau anggap penting
Untuk kau pindahkan ke dalam sebuah buku catatan
Kau tulis ulang, penuh kesabaran
Caramu berdeham ketika mencoba mencari perhatianku
Menyentuhku dengan hati-hati
Dan meletakkan kepalaku di bahumu
Berkata bahwa semua akan baik-baik saja
Dengan cara yang cuma kamu yang bisa
Belum ada lagi
Aku bosan mencintainya...
Bosan mencintai semua itu,
Bosan mencintai kamu
Tapi sampai sekarang masih saja
Tak mampu berhenti
Berpaling pun sulit
Saturday, 7 July 2012
Bosan Mencintai Kamu
Setelah Semua Kebosanan, Masih Juga Mencintai Kamu
Bagaimana membuat kamu mengerti?
Sentuhan jari tidak berfungsi
Ujung bertemu ujung,
Tak ada yang mengalir
Tak ada rasa berpindah
Hangat tubuh pun tidak
Bagaimana membuat kamu mengerti?
Senja berselimut tidak ada lagi
Jingga lebur, seperti es krim cair
Kepak sayap pulang kini terdengar sumbang
Dekap hangatmu membekukan
Aku malah berharap malam cepat datang
Bagaimana membuat kamu mengerti?
Aku lelah menghabiskan satu senja bersama kamu lagi
Bersama usangnya kamu...
Dan jenuhnya aku mencintai kamu
Bagaimana membuat kamu mengerti?
Di atas kebosanan ini,
Setelah semua ini,
Masih saja
Aku mencintaimu
Terpancang kuat di hatiku
Thursday, 5 July 2012
Memori yang Membias
Menulis ini, ditemani suara Landon Pigg dengan lagu Falling In Love At A Coffee Shop, dan secangkir teh hangat. Ingat Papa, ingat kamu. Ingat kalian berdua...
Kesamaan kalian berdua adalah sama-sama punya tempat spesial, dan sama-sama sudah pergi. Kamu pergi jauh, ke kota lain, membangun keluarga kecilmu sendiri. Papa, Papa pergi lebih jauh lagi dari kamu. Pindah dunia, pindah alam. Dan sekarang, aku kangen kalian berdua...
Sudah bertahun-tahun. Jujur, semakin lama aku merasa kalian semakin kabur. Aku jahat ya? Tapi itulah yang terjadi pada memori. Semakin lama, memori tentang kalian tidak lagi sejelas seperti tiga tahun yang lalu, atau dua tahun yang lalu misalnya. Kenangan tentang kalian semakin usang. Semuanya jadi bias...
Aku takut. Kadang aku berpikir kalian berdua cuma mimpi, atau aku mengidap schizophrenia. Mungkin kalian sebenarnya tidak pernah ada, dan rasa sakit serta kehilangan ini, lubang yang kalian tinggalkan di hatiku, semuanya cuma karanganku sendiri. Imajinasi yang menipu dan bukan kenyataan. Tapi sebenarnya apa itu kenyataan? Apa itu nyata? Bisa jadi sekarang ini yang mimpi. Mungkin sebenarnya kalian masih ada, dan hidupku masih baik-baik saja, sempurna. Tapi entahlah, apa lagi itu sempurna?
Aku cinta kamu sampai saat ini. Aku sayang Papa sampai detik ini. Tapi dari kalian, mengenai kalian, semua yang aku punya sekarang cuma foto, tulisan, buku peninggalan, dan sedikit kenangan. Kenangan tentang suara kalian, hangat tubuh kalian, gelak tawa, aroma tubuh, aku berpikir semua ini sisa dari apa yang dulu pernah disebut kenyataan, atau justru cuma komponen dari imajinasi liarku?
Kini nyata dan mimpi jadi bias bagiku...
Apakah aku mulai melupakan kalian? Kalau iya, aku merasa jahat. Tapi untuk terus merindukan pun, aku tidak mengerti apa fungsinya. Aku rindukan sampai aku mati pun, Papa dan kamu akan tetap ada di tempat baru kalian masing-masing. Kita semua terikat dengan ikatan yang berbeda, dan sayangnya ikatan kita tidak lagi bertemu, dan dengan kamu pun, mungkin tidak pernah akan lagi. Jadi jahatkah kalau semua ini, tentang kalian ini, semakin lama jadi semakin kabur, dan terasa semakin tipis membayang? Tidak lagi sejelas dulu.
Mungkin memori tentang kalian mulai habis dibasuh hujan...
Sunday, 1 July 2012
I'm Just Feel Beautiful
When I have enough appeal to eat as much as usual, and get enough courage and will to take care of my body and sure my life too, it makes me feel beautiful...
Like a beautiful swan.
Don't need any childhood magic, magic stick, mother fairy, glass shoes, or a handsome prince,
it's just all about me, enjoying my time, an enjoying me...
:*
Here're some photograph. Being narcisstic, hell yeah! XD
Then what are you usually do to feel beautiful?
For me, above all beauty treatment, meditation, having some good times, enough rest, chocolate, spending time with people I love, walking downtown alone, standing and dancing under the rain, getting wet and sexy, everything about feeling beautiful is still about pray, and give thanks for all I have in my life. For all His grace, and sharing with others, working for His glory name.
I feel like I'm His most beautiful child...
Monday, 25 June 2012
Take A Rest for A While
Bagiku ada dua tipe manusia. Yang membiarkan hidupnya mengalir, dan yang menentang arus. Istilah kesukaanku, anti mainstream. Aku adalah tipe manusia yang kedua. Yang nggak mau menerima konsep dan struktur yang sudah ada begitu saja. Freak... Yeah, it's me. A holly nerd.
But I'm happy, I'm proud... I'm proud to be me.
Meski begitu, ada saatnya aku lelah. Seperti sekarang... Lelah mempertanyakan, jenuh mendengarkan, bosan bicara, sedang tak bernafsu membongkar. Saat ini, aku hanya ingin diam. Sedang ingin diam, tidak berpikir, tidak menentang, tidak bertanya. Sekalipun menurut mereka itu sangat bukan aku...
Banyak orang suka mendengarkan orang bicara, tetapi jarang yang mau dan mampu menemani seseorang diam. Diam itu katanya terlalu membosankan.
Saat ini, aku hanya ingin menyimpan semua rasa penasaranku, kekhawatiranku, kata-kataku, teori-teoriku, standarku, jawaban-jawabanku, dan aku cuma mau diam. Beristirahat menjadi manusia tipe kedua. Sesekali, aku ingin sebentar saja merasakan bagaimana rasanya menjadi manusia tipe pertama.
Jadi kalau kamu tanya sekarang aku maunya apa, fokusnya apa, sebenarnya aku mau jawab, "Memang sedang tidak ingin apa-apa, dan tidak ingin fokus pada apa-apa..." Sebentar saja, dan setelah itu aku siap kembali menjadi orang yang kamu kenal sebelumnya.
Mohon, Tatap Aku...
Ketika aku melangkah lebih dulu, mendahuluimu, aku harap kamu menatap punggungku. Punggungku yang menjauh, aku ingin kau tatap lekat. Tidak perlu kau panggil, tidak perlu kau tahan aku, cukup tatap punggungku yang menjauh. Itu sudah cukup. Karena itu artinya kamu belum mau aku jauh. Kamu masih mau aku. Adakah kamu begitu?
Ah, sial! Bagaimana caranya aku tahu apakah kamu menatap punggungku atau tidak? Terlalu riskan untuk berbalik. Kamu bisa saja cepat-cepat mengalihkan perhatianmu pada yang lain, berpura-pura tidak ada apa-apa. OK, aku GR. Ah, menyebalkan!
Andai aku punya mata di punggungku...
Mengharapkan Hujan Sore Ini
Aku harap hujan datang sore ini. Kenapa? Simple saja... Aku ingin istirahat dengan tenang. Istirahat dari rutinitas, dari balon-balon mimpiku, dari kamu.
Kamu melelahkan. Menggerus energi dalam diriku, tak menyisakan apapun selain bongkahan hitam yang usang. Bongkahan hitam tidak berenergi. Kalau cuma itu yang aku punya, lalu dengan apa aku melanjutkan hidup? Dengan apa aku mencintai kamu?
Karena itu, bantulah aku berdoa... Doakanlah kalau hujan turun sore ini juga. Di tempatku saat ini masih mendung, tapi awan gelap nampaknya masih kuat menahan air lebih banyak lagi. Aku jadi pesimis sore ini hujan.
Aku menatap ke luar jendela, sial! Matahari malah menggeser mendung...
Sunday, 24 June 2012
Hai Laki-Laki, Kami Itu Memang Rumit
Teman-teman pria saya sering kali mengeluh, "Gila ya! Cewek tuh bikin bingung. Ga jelas maunya apa. Semua serba salah!" Klise. Sering banget denger yang kayak gitu.
Jujur, sebagai seorang perempuan, saya ingin membocorkan sedikit rahasia tentang perempuan. Kami, perempuan, terkadang memang tidak tahu maunya seperti apa. Saking complexnya pikiran kami, kami sendiri kadang bingung.
Saat makan siang tadi, saya mendengarkan salah satu teman perempuan saya curhat. Dia bilang ada tiga laki-laki yang saat ini sedang dekat dengannya, masing-masing punya cara berbeda, dan sekarang dia sendiri bingung harus pilih yang mana karena dia bingun perasaannya jatuh pada siapa. Rumit.
Tapi itulah kami, perempuan... Complex, dan tidak mudah dimengerti bahkan terkadang oleh diri kami sendiri. Jadi jangan lantas merasa lelah menghadapi kami wahai para lelaki... Daripada lelah, coba gunakan kelebihan kalian dalam hal berlogika untuk membantu kami berpikir lebih jernih. Itu kan fungsinya kenapa kita diciptakan berbeda? Laki-laki berlogika, dan perempuan cenderung lebih berperasaan. Karena perempuan butuh laki-laki untuk membantunya berpikir jernih, dan sebaliknya, laki-laki butuh perasaan halus perempuan untuk membuatnya lebih 'manusiawi' dalam istilah saya.
Jadi, sekarang setelah tahu bahwa kami ini makhluk indah yang rumit, bagaimana kalau kalian mengajari kami bagaimana caranya melihat sesuatu dari sudut pandang simple?
Friday, 22 June 2012
Pikiran Sempit
Terkadang aku berpikir, seandainya kita sama, mungkin tidak akan sulit mencintai kamu. Kalau saja kamu dan aku sama-sama bersujud atau berlutut, mungkin semua jadi lebih mudah. Tidak perlu ada pertanyaan, tidak perlu ada keraguan, tidak perlu ada rasa takut.
Kamu dan aku tidak punya masalah. Tapi mendengar sedikit ceritamu mengenai keluargamu, aku ragu. Aku hanya takut mengulang kesalahan yang sama yang pernah aku lakukan dulu. Perlahan-lahan, menyerahkan diri untuk terbunuh...
Aku tidak mau mati dua kali.
Ketika berpikir seperti ini, di sisi lain aku merasa aku ini pengecut sekali.
Pindah Rumah Seperti Pindah Hati
Beberapa hari ini sedang rindu rumah yang lama, tempat aku menghabiskan masa kecilku hingga usia 18 tahun.
Tempat aku belajar berjalan, mengucapkan kata pertamaku, jatuh dan terluka untuk pertama kali, menangis, medengarkan Mama mendongeng, mendengarkan Papa bercerita dan bernyanyi, terlalu banyak momment luar biasa yang aku lewatkan di rumah itu.
Di rumah itu, ada garis-garis pengukur tinggiku, coretan-coretanku di dinding ketika aku baru bisa menggambar, koran dinding buatanku ketika aku remaja dan mulai suka menulis, surat-surat cintaku yang aku kubur di halaman belakang, termasuk juga semua noda yang aku tinggalkan di beberapa bagian di rumah itu.
Di rumah penuh kenangan itu, aku pernah merasa menjadi orang paling bahagia maupun paling malang di dunia. Aku pernah jatuh, dan bangkit. Aku pernah berproses, menangis sendirian, menari, menyanyi, tertawa, berteriak marah dengan suara yang diredam menggunakan bantal, membanting pintu, sampai membuka pintu kembali untuk meminta maaf. Di rumah itu, aku pernah merasakan hampir semuanya yang mungkin dirasakan manusia.
Rindu, aku rindu rumah yang lama. Sekarang, setelah dijual untuk biaya kuliahku, kira-kira seperti apa rumah masa kecilku itu sekarang ya? Aku yakin sudah banyak yang berubah. Ketika akan pergi, Mama bilang padaku, "Mama percaya kok Fang sama pemilik yang baru. Dia pasti bisa jaga rumah ini." Kata-kata yang sedikit-banyak membantuku ikhlas.
Aku pikir, pindah rumah itu seperti putus dengan pacar. Kita harus pindah, mau tidak mau, dan membiarkan rumah yang lama ditempati orang lain. Sama seperti pacar... Ketika putus, kita harus membiarkan hatinya ditempati orang lain. Kita harus sadar, bukan kita lagi yang tinggal di situ. Move on dan ikhlas. Sulit memang... Tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Dan bukan berarti tidak boleh rindu. Pindah rumah itu seperti pindah hati.
Sekarang aku bahagia kok dengan apa yang aku punya. Dengan sebuah kamar di salah satu sudut kota Bandung, yang kini menjadi tempatku pulang.
Monday, 18 June 2012
A Thousand Years
Kamu tahu bagaimana jantungku berdetak ketika kita berdekatan? Tidak bisa kamu bayangkan bagaimana tidak tenangnya, bagaimana ia berdegup lebih cepat dari biasanya. Kamu mungkin tidak tahu, karena aku pandai menyembunyikan. Kamu tidak pernah mendengarnya karena aku menutupi suaranya dengan celotehan-celotehan. Kamu tahu aku begitu pandai berbohong, menyembunyikan perasaan?
Tapi aku sayang kamu...
Tidak karena kamu pintar, ada yang lebih seperti kamus berjalan. Tidak karena kamu manis dan menggemaskan, ada yang lebih tampan. Tidak karena kamu baik, ada yang berbuat lebih banyak hingga rela mengorbankan tubuh dan waktunya. Tapi tidak ada yang punya pemikiran segila kamu, dan cara berpikir seterbuka kamu. Tidak ada yang punya sepasang mata bulat seindah milikmu. Tidak ada yang berlaku secuek dan sesimpati kamu dalam waktu yang bersamaan. Tidak ada yang membuatku merasa ingin pergi dan ingin pulang sekaligus.
Tidak ada yang membuatku merasakan sekompleks seperti padamu, sejak hari itu...
Hey, bisa jadi aku buta ya...?
Mungkin benar. Aku buta, buta pada kebaikan. Buta pada kenyataan. Kalau ada orang lain yang begitu mencintaiku yang mungkin lebih daripada kamu, dan bisa dicintai dengan lebih mudah, kenapa kamu masih saja jadi orang pertama yang aku lihat setiap kali aku menatap ke luar jendela?
Kenapa kamu masih saja jadi orang yang aku bayangkan untuk menemaniku duduk menikmati hujan, ditemani cokelat hangat, kopi, atau teh hangat? Sambil berbagi sebuah selimut, berbagi kehangatan.
Kenapa masih cerita-ceritamulah yang ingin aku dengar setiap waktu? Kenapa masih tanganmu yang ingin aku genggam waktu aku takut? Dan bahumu yang ingin ku sandari waktu aku merasa rubuh dan ingin rebah karena lelah? Kenapa masih kamu yang ingin aku ajak berdoa bersama dan menyapa Tuhan setiap waktunya?
Aku buta, aku pasti buta...
Tolong, hatiku butuh kaca mata untuk melihat lebih jelas.
Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I'm afraid to fall
But watching you stand alone
All of my doubt suddenly goes away somehow
One step closer
[Chorus:]
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more
Time stands still
Beauty in all he is
I will be brave
I will not let anything take away
What's standing in front of me
Every breath
Every hour has come to this
One step closer
[Chorus:]
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more
And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
One step closer
One step closer
[Chorus:]
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more
And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I'm afraid to fall
But watching you stand alone
All of my doubt suddenly goes away somehow
One step closer
[Chorus:]
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more
Time stands still
Beauty in all he is
I will be brave
I will not let anything take away
What's standing in front of me
Every breath
Every hour has come to this
One step closer
[Chorus:]
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more
And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
One step closer
One step closer
[Chorus:]
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more
And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
Satu langkah lebih dekat dengan kamu, aku sadar aku harusnya lari ribuan langkah menjauh dari kamu. Mencintai kamu sama saja dengan menyakiti diriku sendiri. Bukan kalah sebelum berperang, tapi aku sadar aku tidak bisa mengulang kesalahan yang sama.
Saat ini, aku sedang menyerahkan diriku pada kematianku yang kedua...
Akankah kamu menyelamatkanku?
Thursday, 14 June 2012
Hello, December!
Tahun ini, mungkin aku adalah orang yang paling menantikan bulan Desember. Yap! Rasanya ingin Desember bisa dipercepat. Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa. Bukan, bukan karena di Desember ada hari Natal, tapi karena Desember tahun ini, aku dibaptis.
Akhirnya. Setelah penantian selama bertahun-tahun, aku sampai pada titik ini. Desember nanti, aku akan mengenakan gaun putih, berjalan menuju altar, bukan untukt menikah, tetapi untuk dibaptis. Yeay! Mungkin untuk orang lain, hal ini tidak terlalu penting. Tapi untukku, hal ini sangat luar biasa. Banyak hal yang aku lalui selama proses pencapian ini, yang pada akhirnya aku harap bisa membuatku lebih dan semakin dewasa.
Sekarang, aku masih membayangkan bagaimana nanti jika harinya tiba. Aku melangkah ke altar, bersama dengan yang lain, mengenakan gaun putih, membawa lilin, diberi kain putih yang dikerudungkan, dibaptis. Dan aku hampir yakin, aku akan menangis.
So, December, I'll remember. :)
Wednesday, 13 June 2012
Maskulinisme
Kalau istilah feminisme pasti sudah akrab di telinga kita ya? Sebuah paham yang menginginkan adanya kesamaan hak dan kesempatan bagi kaum wanita. Bahwa wanita boleh berpendapat, boleh belajar, boleh bekerja, boleh memilih. Boleh melakukan apa yang dulu tidak boleh dilakukan hanya karena ia seorang wanita, punya vagina dan bukannya testis.
Tapi baru-baru ini aku terpikir, kenapa tidak ada maskulinisme ya? Paham yang memperjuangkan adanya kesamaan hak dan kesempatan bagi kaum lelaki. Hal ini membuatku resah... Sadar atau tidak, selain kaum wanita, sekarang ini sebenarnya kaum laki-laki juga sering kali mendapatkan tekanan dari konstruksi sosial.
Pertama, lelaki yang menyukai atau mengenakan warna pink, diasosiasikan dengan gay. Lelaki yang fashionable disebut gay. Pink dianggap warna yang feminim. Padahal, darimana sejarahnya warna pink dideklarasikan sebagai warna milik kaum wanita? Apa yang salah dengan seorang lelaki yang mengenakan warna pink, padahal pink hanyalah sebuah warna, sama saja dengan merah, hitam, biru, ataupun cokelat. Kenapa seolah-olah kejantanan seorang laki-laki, jika diukur dengan warna, hanya terbatas pada hitam, putih, atau warna-warna monoton lainnya?
Kedua, lelaki fashionable. Coba perhatikan koleksi fashion untuk lelaki. Kebanyakan, begitu-begitu saja dan tidak banyak perubahan berarti. Lain halnya dengan fashion untuk wanita. Ketika ada laki-laki yang fashionable, maka ia dianggap kurang laki-laki. Seolah laki-laki diidentikan dengan penampilan yang cuek, dan apa adanya. Padahal, memperhatikan penampilan juga bisa membuat bangga wanita yang berjalan bersamanya. Selain itu, fashion juga menyangkut cara kita mengekspresikan diri. Mengutip kalimat yang saya baca di salah satu majalah fashion terkemuka beberapa tahun lalu, 'Fashion is just not to impress, but too express'. So, why men are not allowed to express theirselves too? Why they are not allowed to express their sense of fashion?
Ketiga, laki-laki tidak boleh menangis, karena menangis menandakan dirinya lemah. Sejak kecil, seorang anak laki-laki sudah dididik untuk tidak menangis. Mereka sudah diajarkan untuk mematikan keran air mata mereka, dan mereka didoktrin bahwa air mata membuat mereka menjadi 'banci'. Kenapa? Padahal Tuhan menciptakan manusia dengan kemampuan untuk menangis sebagai salah bentuk ekspresi. Tidak peduli kamu ini laki-laki ataupun perempuan, kamu punya hak untuk menangis. Menangis bukan tanda cengeng dan lemah. Cengeng dan lemah adalah ketika kamu cuma bisa menangis, tanpa berbuat apa-apa... Bukan berarti kamu tidak boleh menangis...
Keempat, laki-laki tidak bebas berinteraksi dan mengekspresikan perasaannya kepada sesama laki-laki. Tidak seperti wanita, hubungan antara seorang laki-laki dengan laki-laki lainnya seperti sudah didoktrin harus memiliki dinding. Sedekat apapun hubungan mereka, di antara mereka pasti tetap saja ada dinding. Wajar pasti jika kita melihat dua orang wanita bergandengan tangan, berpelukan, atau tidur bersama. Kita pasti tidak akan berpikir macam-macam selain bahwa mereka itu sahabat. Tapi coba apa yang dipikirkan masyarakat jika ada dua orang laki-laki bergandengan tangan di tengah jalan? Sahabat atau bukan, masyarakat pasti akan langsung menganggap mereka itu pasangan gay. Padahal bisa jadi mereka itu sahabat, dan apa yang salah dari dua orang sahabat yang bergandenan tangan?
Keempat hal yang saya sebutkan tadi sebenarnya bukan sesuatu yang memang sejak awalnya tabu. Bukan sesuatu yang menurut suatu agama terlarang. Tapi semua itu merupakan hasil konstruksi sosial masyarakat. Masyarakat terlanjur mengkonstruksi laki-laki sebagai makhluk yang konstan, tidak boleh terlalu ekspresif, dan harus selalu menjaga citra kuatnya. Tidakkah itu menyedihkan bagi kaum laki-laki?
Jadi saya berpikir, kalau ada feminisme, kenapa tidak ada maskulinisme? Laki-laki juga boleh mengenakan warna pink, boleh fashionable, boleh menangis, dan boleh mengekspresikan perasaan mereka sebebas yang kaum wanita lakukan. Gay adalah masalah orientasi seksual, dan itu tidak bisa dibuktikan 100% hanya dengan melihat hubungan seorang laki-laki yang dinilai terlalu dekat dengan laki-laki lainnya bukan?
Hidup maskulinisme!
Seiring, Bukan Digiring
Aku lelah sendirian... Tapi aku juga nggak mau bersama dengan orang yang nggak tepat. Aku lelah jatuh dan memulai semua dari awal. Lelah... Aku ingin ketenangan.
Kalau kamu berpikir aku ini gadis yang bisa kamu atur sesukamu, dan kamu kurung dalam duniamu, kamu salah. Aku ini seorang gadis yang punya banyak mimpi tinggi. Aku ingin sebuah hubungan, tetapi aku tidak mau merasa sesak. Genggam aku sewajarnya, jangan kelewat erat.
Aku ingin punya keluarga, tapi aku juga ingin melihat dunia. Aku ingin bertemu banyak orang, mempelajari banyak hal, berdiskusi banyak, berpikir banyak, dan mengungkapkan pikiranku. Aku punya konsep sendiri, dan aku bukan tipe gadis yang bisa ikut dan menerima konsep yang ditawarkan orang lain, konsep yang sudah mapan... Aku tidak suka berdebat, aku suka berdiskusi.
Aku feminin... Kalau kamu bilang aku ini terlalu seperti laki-laki karena cara bicaraku, karena kelugasanku, maka maaf, menurutku kamu picik. Tidak bolehkah seorang gadis mengungkapkan pikirannya? Apakah seorang gadis dalam benakmu haruslah senantiasa seperti boneka, yang diam dan mendengarkan? Silakan kecewa... Aku bukan gadis seperti itu.
Aku ingin melihat dunia... Bertemu banyak orang. Pergi ke banyak tempat. Berinteraksi dekat dengan berbagai budaya... Tapi aku butuh seseorang untuk aku pulang. Sekalipun aku pergi, aku bisa yakin aku punya seseorang. Aku punya rumah... Seperti itu pula adanya aku...
Aku ingin seiring, bukan digiring...
Tuesday, 12 June 2012
Mencoba Beradaptasi
Susah rasanya berada di lingkungan yang sebenarnya tidak kamu rasa cocok dengan kamu. Aku sedang merasakannya. Rasanya sulit sekali beradaptasi dengan beberapa temanku. Cara mereka berinteraksi, bersikap, topik obrolannya, semua tidak cocok. Bukan tidak mau beradaptasi... Aku mencobanya... Hanya saja, sering kali aku tiba-tiba berpikir, "Hey, ini bukan aku." Pernah berada di situasi seperti itu?
Ketika kamu adalah seorang yang sangat lugas dan efisien, sementara teman-temanmu tidak seperti itu, pernah berpikir bagaimana rasanya menghadapi situasi seperti itu? Dimana mereka tidak pernah mau memahami kamu, mengerti perasaan kamu, dan mencoba mengenal kamu. Minoritas kalah dengan mayoritas, kamu yang harus menyesuaikan.
Ketika kamu tidak suka dengan topik pembicaraan mereka, kamu yang harus mengalah dan mendengarkan. Entah mungkin dengan ikut tertawa meski itu muna, atau cuma diam.
Aku berpikir kenapa rasanya sulit sekali menghadapi sesama manusia? Baru kali ini mengalaminya... Mungkin ini ujian. Selama ini aku tidak tahu masyarakat yang sesungguhnya.
Satu yang selalu coba aku tanamkan dan aku yakinkan kepada diriku sendiri, "Ga semua orang bisa berlaku seperti apa yang kamu mau, dan bersikap seperti cara yang kamu kenal."
Aku mau tahu sampai berapa lama aku bisa bertahan.
Labels:
curhat sastrawi,
emosi nonjok ubun-ubun,
lagi random
Thursday, 7 June 2012
Where's the Love
Siang ini aku bertanya-tanya, dimana cinta itu sebenarnya? Pada senja yang jingga itukah? Atau goresan tintamu yang membentuk barisan-barisan kata berima?
Pada potret-potret hitam-putihku dalam berbagai pose dan ekspresi yang kau ambil diam-diam? Pada sepotong blueberry cheese cake yang selalu kau gunakan untuk meredam marahku? Adakah cinta bersembunyi di dalam semua itu?
Dimana cinta itu sebenarnya?
Adakah di hujan nakal yang membuat kita sakit berdua? Atau pada setiap lembar bulu di sebuah sayap yang kamu berikan padaku? Sebuah, cuma sebuah sayap, bukan sepasang. Kamu bilang sayap yang lain ada di orang-orang lain karena untuk 'terbang', aku juga butuh orang lain, bukan cuma sendirian.
Mungkinkah cinta itu ada di mata bulatmu? Atau di setiap obrolan-obrolan seru kita?
Dimana, dimana cinta itu sebenarnya meletakkan dirinya?
Monday, 4 June 2012
Like Reflect On You
Entah kamu sadar atau tidak, kita punya banyak kesamaan. Ketika melihat kamu, nyaris seperti aku sedang berkaca. Seperti menghadapi bayanganku sendiri. Apakah kamu juga menyadari hal yang sama? Kamu sering berkata, "Mungkin kita memang...", "Sepertinya kita ini memang...", dan kalimat-kalimat sejenis lainnya.
Kalau aku dan kamu memang nyaris sama, itu artinya apa?
Apa yang kamu pikirkan adalah apa yang juga mengendap dalam pikiranku. Apa yang kamu resahkan, juga menjadi keresahanku. Bagaimana cara kamu bersikap, sedikit-banyak mirip denganku atau dengan aku yang dulu.
Jadi kamu ini siapa sebenernya?
...
Kita ini apa sebenarnya?
Semakin mengenalmu, semakin melihat diriku. Belum pernah menemukan yang seperti ini sebelumnya.
Thursday, 31 May 2012
When I Said Enough For You, For Us
Malam ini aku duduk menghadapi laptop, dan untuk kesekian kalinya mengingat pertemuan kita sore itu, awal bulan Maret lalu. Kita berdua duduk berhadapan hanya untuk menyepakati bahwa hubungan ini lebih baik diakhiri. Kita berdua memikirkan hal yang sama, dengan dasar alasan yang berbeda.
Kamu. Kamu bilang enam bulan ini aku jadi sangat dewasa. Itu hal yang bagus.... Masalahnya adalah kamu belum mampu mengimbanginya. Kamu merasa itu sebabnya kita semakin sering bertengkar dan saling diam. Entahlah, mungkin kamu ada benarnya. Dulu kamu dan aku tumbuh bersama, dan sekarang setelah terpisah jarak sekitar 160 km, kita tumbuh di jalan masing-masing dengan lama proses pencapaian yang pada akhirnya ternyata menjadikan semuanya berbeda.
Mungkin kamu benar. Aku berubah dan kamu tidak. Pada akhirnya kamu jadi menyesakkan. Imbasnya, aku dan kamu butuh ruang lebih luas. Butuh bernapas lebih lega. Aku sesak karena kamu, dan kamu disesaki olehku. Saling menyiksa. Ibaratkan sebuah rumah kecil yang awalnya dihuni oleh dua orang. Kemudian dua orang itu memiliki anak, dan juga mengajak saudara-saudaranya tinggal di rumah mereka. Lama-kelamaan, rumah yang tadinya dirasa cukup itu jadi terasa menyesakkan. Orangnya bertambah, luas rumahnya tidak. Seperti itulah aku dan kamu, menurutmu.
Untukku, entah kenapa setiap melihat kamu rasanya jadi berbeda. Bukan berarti tidak cinta, cinta... Tetap cinta. Hanya saja rasanya tidak lagi sama. Ketika aku melihat kamu, aku malah berpikir, "Benarkah ini saatnya aku berhenti? Kapan semua ini harus berakhir?" Jahat ya? Aku merasa jahat. Dan aku takut kalau diteruskan aku malah akan semakin bertambah jahat, dan bisa jadi melakukan hal yang lebih buruk pada kamu. Dan kamu tidak layak menerima semua itu...
Terlepas dari apapun sebenarnya masalahnya, aku senang kita bisa kembali baik-baik saja, sebagai teman. Awalnya rikuh memang, tapi lama-kelamaan aku terbiasa. Dan aku pikir mungkin ini keputusan tepat untuk saat ini.
Sekarang, inilah kita. Dua orang teman yang masih sering bertukar kabar dan saling melempar ejekan satu sama lain. Kamu yang masih sering mengeluh pusing gara-gara ujian, pamer karena sekarang main teater, ngejekin aku kambing, atau minta tolong dicarikan nama untuk peliharaan baru kamu. :D
Dan aku masih juga sama. Masih Hujan yang sama, yang kamu kenal bertahun-tahun lamanya. Yang dulu pernah kompakan pilek berdua sama kamu, yang pernah bantuin kamu nyari sendal waktu banjir, yang wangi shampoonya kamu suka, dan yang suka diajak debat sama kamu. Mungkin yang berbeda cara pikirku saja.
Sekarang, malam ini, di depan laptopku, aku mengambil satu keputusan. Aku ingin mengemasi semua kenangan kita termasuk pertemuan kita tiga bulan lalu itu, dan memasukkan semuanya ke dalam satu kotak yang kemudian aku simpan jauh-jauh. Sudah cukup... Aku harus melanjutkan semuanya lagi.
Tentang Kegelapan yang Sering Kali Didiskreditkan
Lagi suka nulis tentang kegelapan dan cahaya. Entah kenapa. Mungkin karena lagi ingat sama hubungan yang kekurangan cahaya? OK, enough with those silly stuffs.
Kembali ke topik yang sebenarnya, banyak orang yang aku kenal takut sama kegelapan. Sisanya, bukan takut tapi tidak suka. Jarang ada orang yang menyukai kegelapan. Mereka bilang kegelapan itu menakutkan, membuat kita merasa dibekap sepi, dan merasa sendiri. Banyak manusia benci merasa sendiri.
Aku, aku suka kegelapan. Tidak sejak kecil, waktu kecil aku takut kegelapan. Tapi entah sejak kapan aku jadi berbalik menyukainya. Mungkin kasusnya sama dengan menyukai seorang cowok yang sebelumnya setengah mati kamu benci dan kamu maki-maki. Yang jelas tiba-tiba saja pada suatu hari, aku melihat kegelapan itu indah sekali... Aku melihat seni dan suatu pengorbanan dalam kegelapan.
Kita tidak akan tahu terang tanpa adanya kegelapan. Kita tidak akan pernah menghargai cahaya jika kita tidak pernah merasakan kegelapan. Sama halnya dengan kamu tidak akan tahu bahwa es krim itu manis dan enak, kalau kamu belum pernah merasakan rasa pahit dari obat misalnya? Kira-kira seperti itu.
Waktu kecil aku selalu ingin jadi cahaya. Aku selalu berdoa, "Tuhan, jadikan aku cahaya..." Hingga suatu malam aku berpikir, tidakkah doaku ini kelewat egois? Bagaimana kalau Tuhan tidak mau aku jadi cahaya? Bagaimana kalau Tuhan punya kehendak lain?
Maka dari itu, aku mengubah doaku. Tidak lagi memaksa untuk dijadikan cahaya, tetapi menyerahkan semuanya kepada Dia. Aku berdoa, "Tuhan, aku mau jadi cahaya. Jadikanlah kalau memang itu kehendak-Mu. Kalaupun enggak, nggak pa-pa kalau kamu mau jadiin aku kegelapan. Jadilah... Jadikanlah aku kegelapan yang mampu membuat orang lain menghargai setiap cahaya yang dia miliki dalam hidupnya."
Sekarang ini, jujur saja, aku belum tahu apakah aku ini terang atau kegelapan.
Tuesday, 29 May 2012
Sebuah Hubungan yang Kekurangan Cahaya
Dear Mr. Adorably Flat,
(sebuah refleksi tentang hubungan yang berakhir karena kekurangan cahaya)
Kenapa akhir-akhir ini lagu 'Adelaide Sky' selalu berhasil membuat aku ingat kamu dengan cara yang berbeda? Entah sedih atau membahagiakan, aku nggak juga bisa memilih satu di antara dua istilah itu. Boleh menyebutnya abu-abu saja? Meski belum lama ini kita berdebat karena kamu nggak suka warna abu-abu yang menurut kamu nggak jelas itu.
Yang pasti, akhir-akhir ini lagu 'Adelaide Sky' ada dimana-mana, di sekitarku. Di senandung fals temanku, gumaman tidak jelasnya, di materi tugas temanku yang lain, di link yang nggak sengaja aku temukan, di angkot dalam bentuk ringtone handphone seseorang, dimana-mana, dimana-mana, di hati aku. Kamu mau bikin apa sebenarnya? OK, bukan kamu mungkin, Tuhan. Tuhan mau bikin apa sebenarnya?
Tuhan mau aku dan kamu kembali jadi kita? Benarkah? Aku nggak yakin. Bisa jadi Tuhan cuma iseng saja. Tanpa pretensi tertentu.
Kamu pernah bilang di dunia ini nggak ada yang namanya kegelapan, yang ada adalah kondisi ketiadaan cahaya. Kalimat yang juga ada di salah satu scence film bersejarah kita, 'Kambing Jantan', yang diambil dari salah satu tokoh favorit aku, Albert Einstein. Mungkin memang benar... Nggak ada yang namanya kegelapan, yang ada adalah kondisi ketiadaan cahaya. Sama seperti yang dipikirkan Radith di film itu, aku juga memikirkan hal yang sama.
"Tidak ada yang namanya kegelapan. Yang ada adalah ketiadaan cahaya."
Kalau pola pikir itu diterapkan untuk menganalisis hubungan kita, itu berarti hubungan kita bukan gelap, tetapi kekurangan cahaya. Iya kan? Jadi yang perlu kita lakukan sebenarnya bukan berpisah. Tapi cukup menekan saklar dan menambah cahayanya... Atau mungkin membuka jendela lebih lebar supaya cahaya bulan bisa masuk lebih banyak. Mungkin kita akan bisa melihat lebih banyak hal indah dalam hubungan kita.
Sesimple itu. Sesimple itu sebenarnya...
Sayangnya, aku nggak tahu dimana letak saklarnya atau bagaimana cara membuka jendelanya. Tidak, bukan cuma aku yang nggak tahu. Aku pikir kamu juga nggak tahu...
Subscribe to:
Posts (Atom)






