Thursday, 31 May 2012

When I Said Enough For You, For Us

Malam ini aku duduk menghadapi laptop, dan untuk kesekian kalinya mengingat pertemuan kita sore itu, awal bulan Maret lalu. Kita berdua duduk berhadapan hanya untuk menyepakati bahwa hubungan ini lebih baik diakhiri. Kita berdua memikirkan hal yang sama, dengan dasar alasan yang berbeda.

Kamu. Kamu bilang enam bulan ini aku jadi sangat dewasa. Itu hal yang bagus.... Masalahnya adalah kamu belum mampu mengimbanginya. Kamu merasa itu sebabnya kita semakin sering bertengkar dan saling diam. Entahlah, mungkin kamu ada benarnya. Dulu kamu dan aku tumbuh bersama, dan sekarang setelah terpisah jarak sekitar 160 km, kita tumbuh di jalan masing-masing dengan lama proses pencapaian yang pada akhirnya ternyata menjadikan semuanya berbeda.

Mungkin kamu benar. Aku berubah dan kamu tidak. Pada akhirnya kamu jadi menyesakkan. Imbasnya, aku dan kamu butuh ruang lebih luas. Butuh bernapas lebih lega. Aku sesak karena kamu, dan kamu disesaki olehku. Saling menyiksa. Ibaratkan sebuah rumah kecil yang awalnya dihuni oleh dua orang. Kemudian dua orang itu memiliki anak, dan juga mengajak saudara-saudaranya tinggal di rumah mereka. Lama-kelamaan, rumah yang tadinya dirasa cukup itu jadi terasa menyesakkan. Orangnya bertambah, luas rumahnya tidak. Seperti itulah aku dan kamu, menurutmu.

Untukku, entah kenapa setiap melihat kamu rasanya jadi berbeda. Bukan berarti tidak cinta, cinta... Tetap cinta. Hanya saja rasanya tidak lagi sama. Ketika aku melihat kamu, aku malah berpikir, "Benarkah ini saatnya aku berhenti? Kapan semua ini harus berakhir?" Jahat ya? Aku merasa jahat. Dan aku takut kalau diteruskan aku malah akan semakin bertambah jahat, dan bisa jadi melakukan hal yang lebih buruk pada kamu. Dan kamu tidak layak menerima semua itu...

Terlepas dari apapun sebenarnya masalahnya, aku senang kita bisa kembali baik-baik saja, sebagai teman. Awalnya rikuh memang, tapi lama-kelamaan aku terbiasa. Dan aku pikir mungkin ini keputusan tepat untuk saat ini.

Sekarang, inilah kita. Dua orang teman yang masih sering bertukar kabar dan saling melempar ejekan satu sama lain. Kamu yang masih sering mengeluh pusing gara-gara ujian, pamer karena sekarang main teater, ngejekin aku kambing, atau minta tolong dicarikan nama untuk peliharaan baru kamu. :D

Dan aku masih juga sama. Masih Hujan yang sama, yang kamu kenal bertahun-tahun lamanya. Yang dulu pernah kompakan pilek berdua sama kamu, yang pernah bantuin kamu nyari sendal waktu banjir, yang wangi shampoonya kamu suka, dan yang suka diajak debat sama kamu. Mungkin yang berbeda cara pikirku saja. 

Sekarang, malam ini, di depan laptopku, aku mengambil satu keputusan. Aku ingin mengemasi semua kenangan kita termasuk pertemuan kita tiga bulan lalu itu, dan memasukkan semuanya ke dalam satu kotak yang kemudian aku simpan jauh-jauh. Sudah cukup... Aku harus melanjutkan semuanya lagi. 

Tentang Kegelapan yang Sering Kali Didiskreditkan

Lagi suka nulis tentang kegelapan dan cahaya. Entah kenapa. Mungkin karena lagi ingat sama hubungan yang kekurangan cahaya? OK, enough with those silly stuffs.

Kembali ke topik yang sebenarnya, banyak orang yang aku kenal takut sama kegelapan. Sisanya, bukan takut tapi tidak suka. Jarang ada orang yang menyukai kegelapan. Mereka bilang kegelapan itu menakutkan, membuat kita merasa dibekap sepi, dan merasa sendiri. Banyak manusia benci merasa sendiri.

Aku, aku suka kegelapan. Tidak sejak kecil, waktu kecil aku takut kegelapan. Tapi entah sejak kapan aku jadi berbalik menyukainya. Mungkin kasusnya sama dengan menyukai seorang cowok yang sebelumnya setengah mati kamu benci dan kamu maki-maki. Yang jelas tiba-tiba saja pada suatu hari, aku melihat kegelapan itu indah sekali... Aku melihat seni dan suatu pengorbanan dalam kegelapan.

Kita tidak akan tahu terang tanpa adanya kegelapan. Kita tidak akan pernah menghargai cahaya jika kita tidak pernah merasakan kegelapan. Sama halnya dengan kamu tidak akan tahu bahwa es krim itu manis dan enak, kalau kamu belum pernah merasakan rasa pahit dari obat misalnya? Kira-kira seperti itu.

Waktu kecil aku selalu ingin jadi cahaya. Aku selalu berdoa, "Tuhan, jadikan aku cahaya..." Hingga suatu malam aku berpikir, tidakkah doaku ini kelewat egois? Bagaimana kalau Tuhan tidak mau aku jadi cahaya? Bagaimana kalau Tuhan punya kehendak lain?

Maka dari itu, aku mengubah doaku. Tidak lagi memaksa untuk dijadikan cahaya, tetapi menyerahkan semuanya kepada Dia. Aku berdoa, "Tuhan, aku mau jadi cahaya. Jadikanlah kalau memang itu kehendak-Mu. Kalaupun enggak, nggak pa-pa kalau kamu mau jadiin aku kegelapan. Jadilah... Jadikanlah aku kegelapan yang mampu membuat orang lain menghargai setiap cahaya yang dia miliki dalam hidupnya."

Sekarang ini, jujur saja, aku belum tahu apakah aku ini terang atau kegelapan.

Tuesday, 29 May 2012

Sebuah Hubungan yang Kekurangan Cahaya

Dear Mr. Adorably Flat,
(sebuah refleksi tentang hubungan yang berakhir karena kekurangan cahaya)


Kenapa akhir-akhir ini lagu 'Adelaide Sky' selalu berhasil membuat aku ingat kamu dengan cara yang berbeda? Entah sedih atau membahagiakan, aku nggak juga bisa memilih satu di antara dua istilah itu. Boleh menyebutnya abu-abu saja? Meski belum lama ini kita berdebat karena kamu nggak suka warna abu-abu yang menurut kamu nggak jelas itu.

Yang pasti, akhir-akhir ini lagu 'Adelaide Sky' ada dimana-mana, di sekitarku. Di senandung fals temanku, gumaman tidak jelasnya, di materi tugas temanku yang lain, di link yang nggak sengaja aku temukan, di angkot dalam bentuk ringtone handphone seseorang, dimana-mana, dimana-mana, di hati aku. Kamu mau bikin apa sebenarnya? OK, bukan kamu mungkin, Tuhan. Tuhan mau bikin apa sebenarnya?

Tuhan mau aku dan kamu kembali jadi kita? Benarkah? Aku nggak yakin. Bisa jadi Tuhan cuma iseng saja. Tanpa pretensi tertentu. 

Kamu pernah bilang di dunia ini nggak ada yang namanya kegelapan, yang ada adalah kondisi ketiadaan cahaya. Kalimat yang juga ada di salah satu scence film bersejarah kita, 'Kambing Jantan', yang diambil dari salah satu tokoh favorit aku, Albert Einstein. Mungkin memang benar... Nggak ada yang namanya kegelapan, yang ada adalah kondisi ketiadaan cahaya. Sama seperti yang dipikirkan Radith di film itu, aku juga memikirkan hal yang sama.

"Tidak ada yang namanya kegelapan. Yang ada adalah ketiadaan cahaya."

Kalau pola pikir itu diterapkan untuk menganalisis hubungan kita, itu berarti hubungan kita bukan gelap, tetapi kekurangan cahaya. Iya kan? Jadi yang perlu kita lakukan sebenarnya bukan berpisah. Tapi cukup menekan saklar dan menambah cahayanya... Atau mungkin membuka jendela lebih lebar supaya cahaya bulan bisa masuk lebih banyak. Mungkin kita akan bisa melihat lebih banyak hal indah dalam hubungan kita.

Sesimple itu. Sesimple itu sebenarnya...

Sayangnya, aku nggak tahu dimana letak saklarnya atau bagaimana cara membuka jendelanya. Tidak, bukan cuma aku yang nggak tahu. Aku pikir kamu juga nggak tahu...

Saturday, 26 May 2012

Ready&Dare To Love You Now

Ada terlalu banyak ruang kosong. Kosong karena ditinggalkan, atau karena memang tidak pernah diisi. Akhirnya, terbuang percuma. Teronggok sia-sia. Keberadaannya jadi tidak memiliki arti. Useless...

Aku pikir itu masalahnya. Aku merasa ada yang kosong, tanpa pernah tahu alasan sebenarnya kenapa aku merasa kosong. Sebenarnya, aku merasa kosong karena selama ini ruang tersebut memang aku biarkan kosong. Rasa takut, ragu, dan gengsi membuatku memilih membiarkan ruang itu tetap kosong dan menolak siapapun atau apapun yang berniat mengisinya.

Ketika ada sesuatu atau seseorang yang hadir dan ingin mengisinya, aku akan menarik diri, menghindar dan lari. Kurang-lebih seperti itu, seperti pengecut. Ya, aku menyebut diriku sendiri kurang berani. Aku ingin merasakan sesuatu tanpa pernah berani terjun langsung merasakan semua itu. Hanya duduk diam di pinggiran, menunggu kecipratan.

Aku takut. Aku takut mencintai ketika aku tahu aku harus kehilangan. Aku takut mencintai ketika aku sadar bahwa mau bagaimanapun tidak mungkin ada jalan. Seperti yang terjadi bertahun-tahun lalu. Aku takut mengakui pada diriku sendiri bahwa yang aku rasakan pada Lelaki Senja itu berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Aku takut mengakui bahwa aku sanggup berjuang mempertahankan kami sekalipun usiaku belum genap 16.

Yang ada di pikiranku saat itu adalah bahwa aku cuma gadis berusia 15 tahun, yang tidak bisa apa-apa. Aku terlalu pengecut untuk menuruti permintaannya dan mempertahankannya. Baiklah, itu sebuah kesalahan. Dan aku merasa kosong sekarang.

Tapi kini, aku sadar apa yang harus aku lakukan. Mungkin waktu memang tidak mungkin kembali, dan kesempatan nggak pernah datang dua kali. Tapi bukan berarti aku tidak bisa mendapatkan semuanya lagi? Bukan berarti aku tidak bisa merasa lengkap lagi. Sekarang ini, sedikit demi sedikit aku juga mulai merasa kembali 'lengkap'. Aku punya kehidupan yang menyenangkan yang tidak henti-hentinya aku syukuri, dan aku sedang belajar membuka diriku lebih luas lagi.

Aku tidak mau takut bertaruh lagi. Aku mau kembali bermain sekarang... Ingin terjun, bukan cuma menanti cipratan dari pinggiran. Aku mau jatuh cinta, berani dicinta, dan merasa hidup. Dan aku menikmatinya...

Seperti ketika saat aku bisa menghabiskan waktu berdua dengan kamu, mengobrol dan sedikit-sedikit bercanda, seperti apapun bentuk interaksi di antara kita, begitu aku nikmati. Bisa melihatmu dalam satu hari, dan berpikir betapa miripnya kita satu sama lain, aku menikmatinya... Meski aku sendiri nggak tahu akan kemana semua ini berujung, dan aku masih saja merasa kita tidak punya jalan. Tapi aku memberanikan diri mengakui, dan tidak mau berbohong pada diriku sendiri. Aku mengagumi kamu, mata dan senyummu, pribadimu, pemikiran-pemikiranmu, caramu memandang sesuatu, mimpi-mimpimu dan caramu menceritakannya, termasuk segala hal dalam hidupmu.

Terima kasih karena telah membuatku terbangun dan berani jujur...

Friday, 18 May 2012

Terlalu Banyak Berpikir

Aku tahu aku terlalu banyak berpikir. Setidaknya, orang-orang di sekitarku bilang begitu. Mereka sering bilang, "Ayolah... Berhentilah berpikir. Berhentilah memikirkan hal-hal yang nggak ada hubungannya sama kamu." Rata-rata bilang seperti itu.

Aku sendiri tidak merasa aku terus-menerus berpikir. Atau, tanpa sadar aku memang seperti itu? Ini mungkin seperti apa yang disebutkan dalam Johari's Window. Ruang yang orang lain lihat, tetapi tidak aku lihat. Mungkin kurang-lebih seperti itu. 

Baiklah, anggap saja jika memang aku ini terlalu banyak berpikir. Termasuk untuk urusan mencari pacar. Kalau begitu apa salah? Apa aku tidak boleh berpikir? Memikirkan hal ini, aku jadi merasa bahwa jika memang benar seperti itu, maka aku butuh orang yang mampu membuatku berhenti berpikir. Mampu membuatku memutuskan berhenti pada dia.

Lalu, apakah itu kamu? Entahlah. Sejauh ini kamu belum membuatku merasa seperti itu.

Saturday, 12 May 2012

Akhir Dari Harapan Singkat


Aku bukan orang yang pandai menyimpan rahasia. Ini kekuranganku sejak kecil dulu. Lebih-lebih lagi tentang perasaanku. Mama bilang, emosiku selalu tergambar jelas dari mata dan air mukaku. 

Aku mengagumi kamu. Mungkin kamu dan beberapa orang lainnya tahu itu. 

Aku mengagumi kamu. Sampai aku tahu kalau kamu masih mengharapkan seseorang itu. Sekarang aku tahu itu sebabnya kenapa aku dan kamu tidak berlanjut. Tidak ada impression-impression yang berikut. Dan saat aku tahu, aku sadar aku dipijakkan pada kenyataan. Dan kali ini, rasanya cukup sakit. Sedikit...

Tapi di sisi lain, aku juga senang. Senang melihat kamu masih begitu memiliki kepercayaan dan optimis bahwa suatu hari nanti, orang itu bisa mencintai kamu. Aku senang ketika membaca barisan kalimat itu. Ada doa yang tulus terselip di senyumku. Sungguh... Aku harap Tuhan mendengar doa kamu dan penantian kamu itu berbuah baik.

Mungkin orang akan berpikir, lalu aku bagaimana? Yah, pergi... Berpijak pada apa yang nyata dan mengambil jarak dari kamu. Melihat kamu dari jauh, mendoakan kamu, mengalir bersama waktu, membiarkan rasa kagum ini, berharap kamu dapat yang terbaik.

Satu hal yang aku pelajari saat ini, aku harus belajar diam. Mengagumi dalam diam, berdoa dalam diam, menjalani waktu dengan diam. Aku harus belajar diam... Karena terkadang diam lebih menguntungkan bagi semuanya...

Jadi, ini akhir. Setelah ini, aku memilih diam. Bagaimanapun kamu, aku akan tetap diam. Bukan menunggu, tapi membiarkan... Semua ini mungkin memang cuma karena itu bukan kamu, atau aku yang datang di waktu yang salah. Semua ini membuatku memilih berpuasa membagi rahasia.

Jadi, Kafe, semangatlah untuk terus berharap, dan terima kasih... Terima kasih sudah ada meski singkat. 

Thursday, 10 May 2012

All I Have to Do Now

Yang harus saya lakukan sekarang adalah menjejakkan kaki saya kembali pada kenyataan. Berhenti memabukkan diri dalam balon-balon ilusi dan menjadi diri saya sendiri.

Bukan saya tidak mau berharap, tetapi saya lelah berharap sendirian. Mungkin cuma saya yang mengharapkan ada pertemuan selanjutnya. Mungkin cuma saya yang berharap kita bisa saling mengenal lebih dalam. Yang saya baca, kamu menjadikan semua ini menjadi komedi. Kenapa kamu jadi terasa sangat jauh?

Kalau kamu mau, kamu tinggal datang dan berdiri di hadapanku. Kita mengobrol tentang apa saja, saling menceritakan tentang masing-masing. Sesimple itu sebenarnya... 

Sekarang semua terserah kamu.